Wednesday, August 1, 2012

Alat Baru Untuk Industri Konveksi dari UGM [Bagian 1]


Alat Baru Untuk Industri Konveksi dari UGM - Tidak semua orang "berbakat" dalam menyeterika dan melipat baju hingga rapi. Bahkan, sebagian dari kita memang pada dasarnya malas melakukan pekerjaan yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian itu. Akibatnya, sering kali kita mengenakan pakaian yang belum rapi terseterika.

Cara paling mudah memang menyerahkan urusan cuci, seterika, dan lipat baju ke jasa laundry. Tetapi jika kita anak kos dengan uang saku pas-pasan, pergi ke laundry untuk mencuci dan merapikan baju tentu akan sangat menguras kocek. Tidak usah gusar, lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, ini punya solusinys; Pelipat Baju Terapsi.

Nisa Salsabila Shafarudin, Nurida Khasanah, Dimas Reza Rahmana, Fitrah Pawalangi dan Ngurah Nata Baskara, mengubah karton duplek menjadi alat pelipat baju. Hanya tiga kali melipat karton tersebut, pakaian yang sudah kita seterika pun akan segera rapi. Nisa berujar, sedari awal, alat buatan mereka memang ditujukan untuk membantu aktivitas menyetrika dan melipat baju. Dengan alat ini, menyetrika dan melipat baju menjadi lebih cepat, rapi dan hemat energi.

Nisa dan empat kawan di Fakultas Kedokteran itu memiliki ide Pelipat Baju Terapsi sejak awal Januari lalu. Barulah tiga bulan kemudian desainnya rampung dengan menggunakan karton duplek berukuran 60x80 cm. Nisa menjelaskan, karton tersebut dipotong simetris untuk menghasilkan lipatan tiga bagian. Bagian dalam karton dilapisi kertas kesing, sementara bagian luar dilapisi kain furing. [pk/ya]


Selanjutanya

Alat Baru Untuk Industri Konveksi dari UGM [Bagian 2]


Alat Baru Untuk Industri Konveksi dari UGM - Nisa dan empat kawan di Fakultas Kedokteran itu memiliki ide Pelipat Baju Terapsi sejak awal Januari lalu. Barulah tiga bulan kemudian desainnya rampung dengan menggunakan karton duplek berukuran 60x80 cm. Nisa menjelaskan, karton tersebut dipotong simetris untuk menghasilkan lipatan tiga bagian. Bagian dalam karton dilapisi kertas kesing, sementara bagian luar dilapisi kain furing. Pemilihan karton duplek dan kertas kesing, kata Nisa, dikarenakan keduanya material yang tahan panas seterika dan harganya relatif murah.

Hasil uji coba kelimanya menunjukkan, melipat baju dengan Pelipat baju Terapsi hanya membutuhkan waktu 11 detik. Hasil ini tiga kali lebih cepat dari waktu rata-rata yang diperlukan jasa laundry untuk melipat baju, yakni 33 detik. Tidak hanya itu, alat buatan mereka mampu menghemat 2/3 penggunaan listrik.

Pelipat Baju Terapsi kini dibanderol Rp25 ribu per unit. Menurut Dimas Reza Rahmana,  proses produksi menggandeng 20 penghuni salah satu panti asuhan di Yogyakarta. Selain membantu mereka mengisi waktu luang, para inventor berharap dapat memberi mereka lapangan pekerjaan.

Tidak lupa, lima sekawan ini juga menyasar jasa laundry sebagai pangsa pasar mereka. Promosi ke berbagai pemilik laundry telah gencar mereka lakukan. Tanggapan positif pun berdatangan. Bahkan para pemilik laundry meminta Dimas dkk mendesain meja untuk Pelipat Baju Terapsi, mengingat lebar meja seterika yang digunakan jasa laundry biasanya lebih kecil.

Dimas bertutur, alat yang sedang dalam proses pengajuan peten itu juga bisa dipesan sesuai keinginan pembeli. Misalnya, kemasan dapat didesain dengan warna dan corak tertentu. Selain itu, Dimas mengklaim, timnya menggunakan limbah batik untuk menghias kemasan. Selain menambah nilai seni, hal ini juga ramah lingkungan. [pk/ya]

Kreativitas dan Eksklusifitas Cultura ala Yuza [Bagian 1]


Kreativitas dan Eksklusifitas Cultura ala Yuza - Yusak Maulana atau yang lebih dikenal dengan sebutan Yuza memiliki strategi khusus dalam memproduksi pakaian batiknya. Yuza sengaja memproduksi berbagai jenis busana ready to wear atau pakaian siap guna. Namun, untuk menjaga keunikan cultura yang diproduksinya, Yuza hanya membuat bajunya empat buah untuk setiap model, masing-masing satu buah untuk masing-masing ukuran.

Cara ini digunakan Yuza untuk menjaga ekslusivitas yang dimiliki oleh cultura. Eksklusivitas inilah yang menjadi daya tarik cultura di mata bagi para penggunanya. Selain itu, Yuza tidak lupa memberikan sentuhan khas Kudus sehingga busana yang diproduksinya berbeda dengan busana sejenis lainnya. Adapun bahan yang digunakan adalah perpaduan antara kain tradisional asli Indonesia, seperti halnya batik ataupun tenun dengan bahan motif polos, garis garis, kotak kotak dari jenis katun, sifon ataupun sutera. Sementara dari jenis batiknya, Yuza konsisten hanya menggunakan batik tulis atau batik cap.

Yuza menghindari pemakaian batik printing atau sablon buatan pabrik. Hal ini diupayakan untuk mengangkat ekonomi pengrajin pengrajin batik tradisional yang asli. Demikian pula untuk kain tenun yang ia gunakan,Yuza hanya menggunakan tenun tradisional yang asli dan ditenun secara manual, bukan kain yang di print dengan menggunakan motif tenun. Dengan begitu, Cultura mempunyai karakter tersendiri dalam menyisir target pasar yang spesifik antara usia 20 sampai dengan 30 tahun, yang memang senang menunjukkan keindonesiaan mereka melalui busana yang dikenakan. [pk/ya]


Selanjutnya

Kreativitas dan Eksklusifitas Cultura ala Yuza [Bagian 2]


Kreativitas dan Eksklusifitas Cultura ala Yuza - Meski terasa kesan kulturnya, guratan desain Yuza tetap dikemas dalam bentuk lebih modern sesuai perkembangan mode zaman sekarang. Sebenarnya Yuza sudah mulai bisnis busananya sejak tahun 2008 yang lalu, ketika ia baru mendapatkan gelar sarjana teknologi industri. Yuza kemudian pulang kampung ke Kudus dan mendapatkan dukungan secara moral dari adik Yuza satu satunya untuk melanjutkan usaha dengan hanya mengandalkan modal nekat.

Dalam setiap rancangannya, Yuza membuat konsep dengan mengkombinasikan motif bordir khas Kudus dengan motif-motif bordir kuno yang diadopsi dari kebaya Melayu dan motif etnis Tionghoa. Dengan bertambahnya pengetahuan dan kreativitasnya, dia mulai menikmati perjalanan eksplorasi berbisnis batik yang lalu dijualnya pada kisaran harga antara Rp.80.000 sampai Rp.500.000 untuk setiap helainya.

Untuk terus mengembangkan bisnis pakaian batiknya,Cultura terus melakukan promosi. Promosi nya sendiri dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari bazar yang dielenggarakan dari mal satu ke mal lainnya,menjadi sponsor beberapa kelompok musik, hingga mengirimkan pesan broadcasting pada berbagai media sosial. Upaya tersebut akhirnya berhasil menaikkan pendapatan Yuza, yang setiap bulannya bisa mengantongi paling tidak Rp.10 juta sampai Rp.15 juta

Tapi Yuza merendah dengan mengatakan bahwa semua hasil kerja kerasnya itu hanyalah sebatas pada angka. Hal yang terpenting bagi seorang Yuza adalah dedikasi untuk terus mencintai budaya negeri sendiri dan tetap komitmen untuk terus membantu banyak orang. Bagi Yuza, dua hal itu telah menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya.  [pk/ya]

Dari Jilbab Lukis Kini Menuju Kain Lukis [Bagian 1]


Dari Jilbab Lukis Kini Menuju Kain Lukis - Pernahkah anda berkunjung ke pusat perbelanjaan dan ditawarkan sebuah kreasi mode eksklusif bernama jilbab lukis? Ya, Jilbab Lukis adalah sebuah hasil ujicoba pasar yang dilakukan oleh Kecacil Production.

Sekarang ini, setelah berhasil meraup sukses dengan menembus pasar domestik lewat jilbab lukis mereka, pemilik Kecacil Production, Yani Mardiyanto, kini memperlebar sayapnya ke kain lukis. Dengan produk berharga Rp200.000/potong ini, Yani tak hanya mampu menaklukkan pasar domestik, melainkan merambah Singapura. Padahal umur usaha kain lukis yang dia garap bersama empat orang pelukis kain tersebut baru berjalan tiga bulan.

Ide membuat kain lukis berawal dari kesuksesan usaha jilbab lukis yang telah digarap sejak tahun lalu. Yani berpikir untuk mengembangkan usaha ke produk fashion lain, berupa kain. Akhirnya dengan mencoba-coba, dia menemukan jenis kain yang cocok dikenakan di badan sekaligus cocok dilukis. Sejak tiga bulan lalu, dia mulai memproduksi kain jenis sifon lukis.

Untuk saat ini, Yani baru mampu memproduksi 300 potong kain yang memiliki ukuran lebar 110 cm dan juga panjang 1,75-3 cm untuk setiap pekan nya. Bahan kain pun terus mengalami perkembangan.  Tidak hanya menggunakan sifon saja, melainkan menggunakan juga bahan lain yang dirasa cocok untuk dilukis.

Beda kain tentu beda cat. Jadi mereka harus pintar dalam mencari kombinasi cat agar cocok saat dilukiskan di atas kain. [pk/ya]


Selanjutnya

Dari Jilbab Lukis Kini Menuju Kain Lukis [Bagian 2]


Dari Jilbab Lukis Kini Menuju Kain Lukis - Beda kain tentu beda cat. Jadi mereka harus pintar dalam mencari kombinasi cat agar cocok saat dilukiskan di atas kain. Sejauh pengalaman mereka melukis kain, sifon memang merupakan bahan kain yang paling bagus.

Pengerjaan kain lukis diakuinya membutuhkan keahlian khusus. Hanya pelukis terlatih yang bisa mengerjakan produksi kain tersebut. Pasalnya, dia menjelaskan lukisan pada kain dibuat cukup besar. Pusat lukisan biasanya berupa bunga dengan ukuran paling besar. Selanjutnya pelukis harus membuat kreasi lukisan memanjang searah dengan pusat bunga. Kombinasi warna lukisas bukan sembarangan, tapi harus mengikuti warna dasar kain.

Besar dan panjang lukisan menyesuaikan busana apa yang hendak dibuat. Menurut Yani, kain lukis bisa dijadikan busana wanita dengan model apapun. Bisa jadi kebaya, abaya, model kaftan, atau gamis, sesuai keinginan. Semua model mengikuti bentuk lukisan.

Belum lama ini, dia menerima pesanan 80 potong kain yang akan dipakai seragam penerima tamu di hajatan seorang pengusaha Solo. Bentuk dan warna lukisan dibuat seusai keinginan pemesan. Dalam waktu dekat untuk kian mengembangkan bisnisnya, Yani berencana meneken memorandum of understanding (MoU) dengan seorang desainer lokal untuk memproses kain lukis menjadi produk garmen siap pakai. Jika tidak ada kendala, MoU siap ditekan pekan depan.

Yani ingin mengembangkan usaha ini terus agar bisa memberi manfaat untuk lebih banyak masyarakat. Ada kemungkinan juga Yani melakukan kerja sama yang lain. [pk/ya] 


Selanjutnya

Dari Jilbab Lukis Kini Menuju Kain Lukis [Bagian 3]


Dari Jilbab Lukis Kini Menuju Kain Lukis - Pusat lukisan biasanya berupa bunga dengan ukuran paling besar. Selanjutnya pelukis harus membuat kreasi lukisan memanjang searah dengan pusat bunga. Kombinasi warna lukisan juga tidak bisa sembarangan, tapi harus mengikuti warna dasar yang dimiliki kain.

Sehingga, untuk menghasilkan kain lukis, tidak sekedar diperlukan kemampuan melukis dan keterampilan menggunakan koas semata.

Besar dan panjang lukisan menyesuaikan busana apa yang hendak dibuat. Menurut Yani, kain lukis bisa dijadikan busana wanita dengan model apapun. Bisa jadi kebaya, abaya, model kaftan, atau gamis, sesuai keinginan. Semua model mengikuti bentuk lukisan.

Belum lama ini, dia menerima pesanan 80 potong kain yang akan dipakai seragam penerima tamu di hajatan seorang pengusaha Solo. Bentuk dan warna lukisan dibuat seusai keinginan pemesan. Dalam waktu dekat untuk kian mengembangkan bisnisnya, Yani berencana meneken memorandum of understanding (MoU) dengan seorang desainer lokal untuk memproses kain lukis menjadi produk garmen siap pakai. Jika tidak ada kendala, MoU siap ditekan pekan depan.

Yani ingin mengembangkan usaha ini terus agar bisa memberi manfaat untuk lebih banyak masyarakat. Ada kemungkinan juga Yani melakukan kerja sama dengan penjahit dari karang taruna setempat. Produk kain lukis Kecacil Production memang sangat cocok digunakan sebagai busana saat Lebaran. Yani mengakui dia sengaja mengambil momentum Ramadan dan Lebaran untuk memasarkan kain lukis. Saat ini, dia mengaku hampir kewalahan memenuhi pesanan. [pk/ya]